Fase Baru The Jansen: Single Lagu Cinta Pertama Jadi Pintu Masuk ke Album Romantisasi Impulsif

0


 

PPerjalanan The Jansen sudah berlangsung lama. Dimulai dari EP From Bogor to Japan (2016), album Present Continuous (2017), Say Say Say (2019), hingga terobosan besar Banal Semakin Binal (2022) yang merambah berbagai kalangan. Dua tahun lalu, mereka merilis Durja Bersahaja (2024) dengan pendekatan berbeda: lo-fi, vokal Bani yang sengaja ditenggelamkan, dan reverb basah yang sempat mengejutkan para pendengarnya.


Kini kejutan itu berlanjut. The Jansen—yang kini tersisa Cinta Rama Bani Satria (Bani) dan Adji Pamungkas—telah mengumumkan album keempat mereka sekaligus penutup dari sebuah trilogi: Romantisasi Impulsif, sebuah karya berisi dua belas nomor yang melengkapi tiga babak yang dimulai oleh Banal Semakin Binal (2022) dan dilanjutkan oleh Durja Bersahaja (2024).


Sebagai pintu masuk menuju Romantisasi Impulsif, The Jansen baru saja merilis single "bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)" pada Rabu, 29 April 2026. Selanjutnya, video lirik dari lagu tersebut menyusul keesokan harinya, pada Kamis, 30 April 2026, di kanal YouTube The Jansen. Video lirik ini dikemas secara visual yang menarik ala film Hongkong dekade 90-an. Selain itu, lirik juga ditampilkan dalam tiga bahasa, yakni Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Lagu ini menjadi pengantar bagi pendengar untuk mulai mengenal dan menerka arah musikal The Jansen di album mendatang. Bukan sekadar single biasa, ini adalah lagu cinta pertama dalam diskografi The Jansen.


"Ini pertama kali The Jansen dengan sengaja membikin lagu cinta," ujar Adji.


Selama ini, The Jansen lebih dikenal dengan pesta anak muda, sindiran sosial, kegelisahan eksistensial, atau romantisme yang dibungkus kepahitan. Tapi kali ini, mereka terang-terangan menulis tentang jatuh cinta, kerentanan, dan kontradiksi perasaan—lengkap dengan embel-embel wo ai ni (aku cinta padamu dalam bahasa Mandarin) yang terasa manis sekaligus ironis.


Menurut Adji Pamungkas selaku penulis lirik, demi cinta, orang rela melakukan banyak hal. Mula-mula tampak tak masuk akal, tapi pada akhirnya banyak orang melakukan hal gila untuk menjaga cintanya. Adji memberi contoh, ia acap mendengar cerita orang yang rela meminjam motor demi mengajak jalan-jalan kekasihnya. The Jansen menangkap fenomena ini dengan cerdik dan menuangkannya dalam bentuk lagu.


“Meski ini pengalaman pertama bikin lagu cinta, tapi kami mau ngasih perspektif yang berbeda. Bagaimana cara cinta bekerja di tengah kemiskinan yang mengintai?” ujar Adji.


Lagu ini bukan sekadar lagu cinta recehan tentang dua anak manusia yang kasmaran belaka. Ia tetap khas The Jansen: gelap, ironis, tapi di sudut lain terdengar sangat jujur dan rapuh. Wo ai ni diulang seperti mantra yang mencoba meyakinkan diri sendiri lebih dari meyakinkan pasangan.


"Kami senang memulai dari sesuatu yang belum kami tahu akan ke mana," beber Bani.


Album Romantisasi Impulsif sendiri akan tersedia di semua platform digital streaming mulai Rabu, 22 Juli 2026. Untuk edisi fisik, The Jansen bekerja sama dengan dua label dari dua negara berbeda. CD dan vinyl akan dirilis oleh P-Vine Records, label legendaris asal Jepang yang dikenal sebagai rumah bagi berbagai musisi indie dan alternatif. Sementara itu, edisi kaset akan dirilis oleh Miles Records, label asal Malaysia yang aktif merilis musik-musik underground dan eksperimental di wilayah Asia Tenggara. Ketiga format fisik ini akan menyusul kemudian setelah perilisan digital.


Dengan single perdana yang berani dan album yang menutup trilogi mereka, The Jansen sekali lagi membuktikan bahwa mereka tidak pernah cukup puas dengan rumus lama. Sebuah pertanyaan terbuka: apakah Romantisasi Impulsif akan menjadi fase pamungkas yang manis, atau justru awal dari sesuatu yang baru lagi?

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !